Kesiapan anak masuk sekolah

Setiap orang tua menginginkan anaknya cerdas. Dg dmk kalau bisa anak akan dimasukkan ke sekolah sedini mungkin. Hal tsb bukan sesuatu yg salah, tetapi orang tua tetap harus memperhatikan perkembangan anak, apakah anak tsb sudah siap untuk memasuki sekolah dg tingkat kesulitan yg lebih tinggi ?

Fase anak sekolah, usia 4 – 12 tahun. Sejak usia 4 th anak sudah mulai memiliki ‘kompetensi’ untuk sekolah. Sejak usia tsb (baik ia bersekolah di TK maupun tdk) anak mendapat pengalaman melalui permainan, pergaulan dg orang tua dan teman-teman seusia. Hal tsb penting untuk perkembangan sosial dan kepribadiannya, juga untuk perkembangan kognitif agar dapat memulai dg baik di tingkat Sekolah (SD).

Berdasarkan beberapa penelitian, usia 6 tahun adalah saat yg paling tepat bagi anak untuk masuk SD, sebab pada saat itu ia naik satu tingkat perkembangan dalam banyak aspek.

Prasyarat agar anak mampu menyesuaikan di sekolah berikutnya yg tingkat kesulitannya lebih tinggi adalah menguasai ketrampilan sosial dan intelektual. Kriterianya adalah :

-      Menguasai kemampuan panca indera, dan organ motorik terkoordinasi dg baik.

-      Menguasai pengertian-pengertian (konsep2) tertentu, misal : konsep angka, konsep huruf, konsep ruang, konsep waktu, konsep bentuk, konsep benda, konsep warna, konsep bagian tubuh, dll.

-      Kesediaan untuk belajar, yg merupakan indikasi ‘kematangan utk bekerja’.

-      Menyadari adanya tanggung jawab, ia harus dapat mengerti tugas dan mengerjakannya sendiri. 

-      Memiliki perbendaharaan kata yg cukup banyak dan dapat mengemukakan secara verbal ide-ide dan pikiran-pikirannya.

-      Dapat membedakan bermain dari kerja (mengerjakan tugas).

-      Dapat melakukan suatu kegiatan dlm jangka waktu yg cukup lama serta menyadari tujuan kegiatan tsb.

-      Dapat menyesuaikan diri scr sosial (di keluarga & kelas).

-      Harus dapat melepaskan diri dari ibu dan keluarga.

-      Harus dapat bekerja sama dg teman/orang lain.

-      Mengerti, menyerap dan dapat mereproduksi bahan pelajaran yg diberikan.

 

Issues dlm psikologi perkembangan

Basic Issues

  1. Dapatkah anda mengidentifikasi karakteristik/pola perilaku anda yang dipengaruhi oleh nature dan yang menurut anda adalah hasil dari pola asuh?
  2. Nilai atau sikap apakah yang anda dapatkan dari modelling? Bagaimana orang tua atau pengasuh anda menampilkan nilai atau sikap ini?

Prenatal Development

  1. Bagaimana anda menggambarkan fenotipe anda? Apa yang dapat anda simpulkan mengenai genotipe anda ketika anda menggambarkan fenotipe anda dengan orang tua?
  2. Kira-kira jika Anda mengandung,apakah anda mau mendengarkan musik klasik kepada calon bayi anda? Bagaimana cara memperdengarkannya?

Neonatal Development

  1. Jika anda sedang mengandung, apakah anda ingin melahirkan di rumah (home delivery)? Mengapa? Kira-kira sejauh apa jawaban anda dipengaruhi oleh pola budaya anda?
  2. Metode melahirkan apa yang paling baik menurut anda?
  3. Temperamen bayi biasa membuat bayi dikelompokan menjadi tiga golongan besar: easy child, difficult child, dan slow-to-warm-up child. Menurut anda, bagaimana manifestasi atau perwujudan temperamen bayi ini ketika yang bersangkutan sudah berusia dewasa?

 

Physical Development

  1. Bagaimanakah keuntungan dan kerugian dari berjalan lebih cepat (misalnya sebelum berusia 1 tahun)?
  2. Pikirkan pengalaman anda pada masa pubertas? Apakah masa puber anda datang lebih cepat, tepat waktu, atau terlambat? Bagaimana waktu puber ini mempengaruhi konsep diri anda? Bagaimana pengaruhnya kepada hubungan dengan teman sebaya?
  3. Apa yang anda akan katakan kepada orang tua yang memiliki anda obesitas tetapi merasa bahwa anaknya hanya dalam masa pertumbuhan dan akan kurus dengan sendirinya nantinya?

Perceptual Development

  1. Pikirkanlah ketrampilan-ketrampilan yang dapat dijelaskan oleh pandangan naturalistik. Kemampuan apakah yang muncul pada masa bayi, yang dapat berkembang dengan baik, meskipun tidak dilatih?
  2. Menurut anda, apa manfaat informasi mengenai perkembangan sensory bayi kepada orang tua atau pengasuh bayi?
  3. Kita secara otomatis menilai emosi orang lain berdasarkan tanda-tanda nonverbal. Lakukanlah analisis mengenai hal ini: Tanda apa yang secara spesifik anda lihat untuk menentukan seseorang itu merasa bangga, atau malu, atau marah atau bingung? Bagaimanakah emosi yang kompleks ditampilkan dalam gerakan tubuh atau wajah? Apakah nada suara dapat juga menentukan seseorang sedang merasa apa?

 

Cognitive Development

  1. Pikirkan skema fisik dan mental apa saja yang anda gunakan ketika sedang membaca buku ini?
  2. Pikirkan beberapa tingkah laku yang khas dilakukan bayi (misalnya berulang-ulang menjatuhkan barang yang diberikan kepadanya). Apakah perilaku ini sesuai dengan ide Piaget mengenai primary,secondary, dan tertiary circular reaction?
  3. Pikirkan contoh egosentrisme dalam perilaku anda sendiri. Misalnya bagaimana egosentrisme mempengaruhi cara anda berkomunikasi dengan orang lain?
  4. Pikirkanlah: apa yang akan saya lakukan jika saya menjadi presiden. Dapatkah anda melihat bagaimana anda menggunakan logika hipotetis-deduktif? Dapatkah anda memikirkan situasi sehari-hari di mana anda menggunakan cara berpikir seperti ini?
  5. Tuliskan tiga cara yang baik untuk belajar. Ketika memilih salah satu cara, apakah tergantung bidang ilmu apa yang sedang dipelajari? Apakah anda memilih dengan sadar cara belajar dan menyesuaikannya dengan bidang ilmunya?

 

Development of Language

  1. Cobalah berbicara dengan teman anda dan perhatikan bagaimana anda menggunakan bahasa verbal dan non verbal. Misalnya, menggunakan gerakan tangan untuk bercerita mengenai ukuran, dll. Menurut anda, gerakan tubuh seperti itu menolong atau mengganggu proses komunikasi?
  2. Ketika kita belajar bahasa asing, apakah prosesnya seperti ketika bayi belajar bahasa untuk pertama kali? Apakah anda mengalami vocabulary explosion ketika tiba-tiba anda menguasai banyak vocabulary?
  3. Pikirkan beberapa penjelasan nature dan nurture untuk referential dan expressive style of early language

Personality Development

  1. Pikirkanlah kepribadian anda sendiri? Apakah ada perubahan sejak masa kanak-kanak?
  2. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang sulit lebih sering mendapatkan hukuman? Bagaimana kita dapat menginterpretasikan hasil penelitian ini?
  3. Seandainya anda sering mencoba belajar olahraga baru, misalnya tenis atau sepak bola, dengan cara mengobservasi atlet yang profesional. Apa saja yang dapat anda pelajari dari atlet tersebut (mengacu pada teori Bandura)
  4. Menurut Erikson, setiap tahapan usia memiliki isu-isu yang harus diselesaikan. Menurut anda, apakah isu-isu yang tidak selesai pada saatnya akan dibawa ke masa dewasa? Bagaimana pengalaman pribadi anda dalam menjawab hal ini?

Concept of Self,Gender, and Sex Roles

  1. Dapatkah anda memikirkan script sosial yang dipelajari oleh anak usia 2-3 tahun? Misalnya ritual sebelum tidur? Apakah ada script yang lain?
  2. Menurut Harter, harga diri seseorang paling rentan dalam area di mana orang tersebut tampak dan merasa paling kompeten. Bagaimana pengalaman pribadi anda mengenai hal ini?
  3. Peraturan-peraturan apa saja yang berkaitan dengan jenis kelamin yang dapat anda pikirkan? Misalnya, anak lelaki tidak boleh nangis

Development of Social Relationships

  1. Pikirkan mengenai hubungan anda dengan orang-orang terdekat. Dengan siapa anda merasakan attachment? Dengan siapa anda merasakan affectional bonds?
  2. Bagaimana kadar attachment anda dengan orang tua? Apakah menurut anda ada korelasi antara attachment anda dengan orang tua dengan hubungan anda dengan orang dewasa lainnya?
  3. Dapatkah anda mengingat status sosial anda pada masa kanak-kanak? Bagaimana status ini mempengaruhi hidup anda pada masa-masa berikutnya?

Moral Development

  1. Seandainya teori Gilligan benar, dan wanita dewasa cenderung berpikir berdasarkan ethic of caring dan pria dewasa cenderung berpikir berdasarkan ethic of justice, apa implikasinya terhadap hubungan antara pria dan wanita? Apa implikasinya ketika pemimpin politik adalah pria atau wanita?
  2. One day a little girl come inside her house after playing. She had seen a very large dog in a neighbor’s yard. She told her mother that she had seen “a dog as big as an elephant”. Another girl came home from school one day. When her mother asked her about her school day, the girl said that she had gotten an “A” on a spelling test, but she had really gotten a  “D”. Moral judgement questions:
    1. Did both girls say something that wasn’t true?
    2. Did both lie?
    3. Which one told the biggest lie?
    4. Why is her llie bigger than the other girls?
    5. Should both of them be punished for lying?
    6. If both should be punished, which one should recieve the greatest punishment

Child within the Family System

  1. Gambarkan sistem ekologi ketika anda berusia 5 tahun berdasarkan model Bronfenbrenner. Apa saja microsystem, exosystems, dan macrosystem yang mempengaruhi hidup anda?
  2. Pikirkan masa kecil anda? Strategi apa yang orang tua aplikasikan untuk mengendalikan perilaku anda? Hukuman seperti apa yang mereka gunakan? Hal-hal apa yang hendak anda ganti ketika anda membesarkan anak sendiri?
  3. Bagaimana pola asuh orang tua anda? Pengaruh apa yang diberikan pola asuh tersebut kepada perkembangan anda?
  4. Apakah anda mirip dengan saudara kandung anda, misalnya dalam sifat, ketrampilan, dan kepribadian? Dapatkah anda menganalisis hal-hal dari lingkungan yang membuat anda menjadi sosok yang berbeda dari saudara anda?
  5. Mana yang lebih buruk: bertahan menikah tetapi selalu berselisih dan bertengkar atau bercerai?
  6. Pikirkan mengenai dukungan dari orang lain di luar keluarga selama anda dibesarkan. Bagaimana dukungan/tidak adanya dukungan pihak lain mempengaruhi orang tua anda?

The impact of Broader Culture

  1. Waktu kecil, apakah anda mengalami pengasuhan di luar orang tua? Bagaimana pengalaman ini mempengaruhi perkembangan anda selanjutnya?
  2. Apakah anda berpengalaman bekerja ketika remaja? Hal apa yang anda pelajari dari kegiatan bekerja tersebut? Apakah anda akan menyarankan anak anda untuk bekerja dalam masa remajanya?
  3. Sebagai orang tua, bagaimana anda memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan kerugian dari menonton televisi? Apakah anda akan berhenti sama sekali menonton televisi jika menurut anda hal itu penting?
  4. Pikirkan prinsip hidup anda, mana yang lebih penting usaha atau kemampuan dalam menentukan kesuksesan? Bagaimana pandangan ini mempengaruhi pilihan atau perilaku anda?

Atypical Development

  1. Bagaimana anda menggambarkan hal-hal yang menjadi kelemahan anda, hal yang melindungi anda, serta dukungan yang anda terima dari lingkungan?
  2. Kebijakan sosial apa yang seharusnya dibuat mengingat hasil penelitian menunjukkan bahwa gangguan perilaku yang terjadi pada masa kanak-kanak cenderung menetap dan berkembang menjadi kriminalitas pada masa dewasa?
  3. Apakah anda setuju bahwa anak berbakat seharusnya diperbolehkan loncat kelas? Informasi apa yang dibutuhkan sebelum memutuskan?

Review: Konsep Perkembangan

Perkembangan anak merupakan hal yang penting untuk dipelajari karena membantu Anda untuk lebih memahami masa kanak-kanak Anda dan memberikan strategi  untuk menjadi orang tua ataupun guru yang kompeten. Dengan mempelajari perkembangan anak, maka akan membantu meningkatkan kehidupan anak. Area penting untuk meningkatkan kehidupan tersebut adalah dengan memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan anak-anak. Di Indonesia saat ini, dan hampir di seluruh dunia, anak-anak membutuhkan peningkatan pelayanan kesehatan. Gaya hidup dan kondisi psikologis menjadi penting untuk diperhatikan dalam kaitannya dengan peningkatan kesehatan dan kesejahteraan anak-anak. Pengasuhan juga berpengaruh penting dalam perkembangan anak-anak, karena anak-anak tumbuh dan dibesarkan oleh orang dewasa di dalam keluarga. Keluarga dengan satu orang tua, baik itu karena pasangan meninggal ataupun bercerai, begitu juga orang tua yang bekerja dan anak dititipkan dalam pengasuhan orang lain adalah beberapa permasalahan keluarga yang memengaruhi kesejahteraan anak. Pendidikan juga berperan dalam peningkatan kesehatan dan kesejahteraan anak. Oleh karena itu pendidikan anak perlu diefektifkan, dan dalam kehidupan modern ada banyak cara untuk meningkatkan pendidikan. Konteks sosiokultural juga merupakan hal yang berpengaruh pada perkembangan anak. Kebudayaan, etnik, status sosio ekonomi, dan jenis kelamin adalah empat aspek kunci dalam konteks sosiokultural. Kebijakan sosial yang mempertimbangkan keempat aspek dalam sosiokultural itu, merupakan suatu program yang diambil oleh pemerintah yang dirancang untuk mempengaruhi kesejahteraan warga negara.

Tiga proses kunci dalam perkembangan anak adalah proses fisik (biologis), kognitif, dan psikososial (sosio-emosional). Proses fisik (biologis), contohnya pewarisan gen, meliputi perubahan fisik pada individu. Proses kognitif, contohnya berpikir, terdiri atas perubahan-perubahan pada pikiran, inteligensi, dan bahasa individu. Proses psikososial (sosio-emosional), contohnya tersenyum, meliputi perubahan-perubahan pada hubungan individu dengan orang lain, emosi dan kepribadian.

Isu yang masih terus menjadi perdebatan dalam perkembangan anak adalah tentang pentingnya faktor bawaan atau faktor lingkungan (nature vs nurture). Dengan kata lain, anak adalah individu yang aktif ataukah pasif, masih juga terus diperdebatkan. Beberapa pakar perkembangan menggambarkan perkembangan sebagai sesuatu yang terus menerus, bertahap, dan kumulatif. Sedangkan yang lain menggambarkan bahwa perkembangan tidak terjadi terus menerus, tidak bertahap, dan bukan kumulatif. Isu pada pengalaman awal anak-anak dan pengalaman lanjutan, berfokus pada apakah pengalaman awal (masa bayi) lebih penting dalam proses perkembangan daripada pengalaman lanjutan. Kebanyakan pakar perkembangan menyadari posisi ektrem dari faktor bawaan dan lingkungan, kontinuitas dan diskontinuitas, dan isu-isu dalam pengalaman awal dan lanjutan, tidak banyak didukung oleh penelitian. Meskipun terdapat konsensus tersebut, mereka terus memperdebatkan sejauh mana posisi masing-masing isu tersebut mempengaruhi perkembangan anak.

Ada beberapa teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan perkembangan anak. Teori psikoanalisis menggambarkan perkembangan sebagai sesuatu yang tidak disadari dan sangat dipengaruhi oleh emosi. Dua teori utama psikoanalisis dalam psikologi perkembangan berasal dar teori yang dikemukakan Sigmund Freud dan Erik Erikson. Freud mengemukakan bahwa individu melalui lima tahapan psikoseksual (oral, anal, phalik, laten, genital). Teori Erikson menekankan delapan tahap perkembangan psikososial. Tiga teori kognitif utama adalah teori perkembangan kognitif dari Piaget, teori kognitif sosiokultural dari Vygotsky, dan teori pemrosesan informasi. Teori kognitif menekankan pikiran sadar. Dalam teori Piaget, anak-anak melalui empat tahap kognitif yaitu sensomotoris, praoperasionalo, operasional konkrit, dan operasional formal (abstrak). Teori kognitif sosiokultural Vygotsky menekankan bagaimana budaya daninteraksi sosial mempengaruhi perkembangan. Teori pemrosesan informasi menekankan bahwa individu memanipulasi, memonitor dan membuat strategi mengenai hal tersebut. Tiga versi dari pendekatan perilaku dan kognitif sosial adalah pengkondisian klasik Pavlov, pengkondisian operan Skinner, danteori sosial kognitif Bandura. Etologi menekankan bahwa perilaku sangat dipengaruhi oleh biologi yang terkait dengan evolusi dan ditandai oleh periode kritis atau sensitif. Teori ekologi adalah pandangan sistem lingkungan Bronfrenbrenner mengenai perkembangan yangterdiri atas lima sistem lingkungan, yaitu mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem, dan kronosistem. Sebuah orientasi teoretis eklektik tidak mengikuti salah satu pendekatan teoretis apapun, tetapi lebih memilih bagian-bagian terbaik dari masing-masing teori untuk menjelaskan perkembangan anak.

Anak: pembelajar yang hebat.

Seorang anak adalah juga seorang pribadi yang membutuhkan penghargaan dari orang lain, terutama dari orang dewasa. Namun ada kalanya orang dewasa tidak menghargai anak kecil. Di sisi lain orang tua menuntut anak kecil untuk menghargai orang tua.

Ilustrasi: seorang anak yang menolak untuk mandi pagi.

Orang tua: ”Ayo mandi”

Anak: ”nggak mau..” sambil dia terus melanjutkan bermainnya.

Orang tua masuk kamar mandi.

Anak: ”tidak mau ma..” sambil melihat ke mamanya dengan pandangan tegang.

Orangtua mulai menyiapkan air hangat untuk mandi anaknya. Anak mendengar air mandi telah disiapkan dan menjadi semakin tegang.

Anak: ”tidak mauuu maaa…” dan kini mulai sedikit dengan suara agak keras.

Orang tua selesai dengan persiapan di kamar mandi dan mulai mendatangi anak.

Anak mulai menangis sambil berteriak ”tidak mauuu maaa..” dan sekarang mulai menangis  lebih keras sambil berkata ”tidak mau”.

Orang tua tetap menjalankan apa yang dimauinya, digendongnya anaknya dibawa ke kamar mandi. Anak tidak melawan, hanya terus menangis selama orang tua memandikannya, sambil terus berkata ”tidak mau” berulang-ulang, sampai proses memandikan itu selesai.

Apa yang dapat dipelajari dari ilustrasi itu?

Jika kita lihat sepenggal interaksi anak dan orang tua di atas, maka ada beberapa hal penting yang perlu dipahami, 1) orang tua menunjukkan powernya, dan kemungkinan anak akan belajar cara menunjukkan power dengan cara yang sama jika saatnya tiba. Dia akan menggunakannya pada suatu saat ketika dibutuhkan; 2) Orangtua mendengar penolakan anak, tapi orangtua tetap menjalankan apa yang dianggapnya perlu. Dari hal itu, anak akan belajar untuk tidak mendengarkan perkataan orang lain dan berusaha mengikuti apa yang diinginkannya. Anak akan belajar untuk tidak menghargai perkataan orang lain, dan dia akan menunjukkannya pada saat memiliki power nanti; 3) Orang tua mengabaikan pesan verbal dan kurang peka menangkap pesan non verbal atas keberatan anak. Dalam hal itu, orang tua tidak mau mendengarkan anak, meskipun anak sudah berusaha menyampaikannya secara verbal, yang mungkin juga diikuti dengan isyarat penolakan secara non verbal. Namun karena jauh lebih lemah, maka anak tidak berdaya menghadapi orangtua. Kemungkinan, anak belajar untuk mengabaikan perkataan orang lain dan menganggap tidak penting pesan non verbal dari orang lain. Dari keseluruhannya, anak belajar bahwa untuk memenuhi keinginan maka ketiga hal di atas dapat dilakukan, yaitu menunjukkan power, tidak menghargai orang lain, mengabaikan perkataan dan isyarat non verbal yang disampaikan orang lain. Kemungkinan akan terbentuk karakter yang tidak peka akan lingkungan dan cenderung egocentris.

Dengan demikian, sebenarnya sudah dapat diprediksikan sejak dini hari, akan menjadi anak dengan karakter seperti apakah di kemudian hari dilihat dari interaksi yang terjadi antara orang tua dan anak dalam keseharian mereka. Interaksi antara orang tua dan anak akan merefleksikan sifat atau karakter masing-masing. Namun, karakter orang tua cenderung sudah terbentuk dan mendekati titik jenuh, dan menjadi agak sulit untuk berubah. Oleh karena itu perlu berhati-hati menggunakannya saat berinteraksi dengan anak, karena anak sedang dalam proses pembentukan karakter, sehingga apapun yang diterimanya dapat menjadi bagian karakternya yang akan terbentuk.

Kasus: anak & pengasuhnya

Seorang anak menangis sambil berteriak-teriak ‘tidak mau, tidak mau’ berkali-kali setiap pagi waktunya mandi. Mengapa dia berteriak-teriak dan semakin hari semakin kencang seiring pertumbuhan dia menjadi besar. Sementara itu, pengasuhnya dengan terus berbicara memberi penjelasan bahwa anak itu seharusnya mau melakukan apa yang diinginkan oleh orang dewasa.

Anak semakin berteriak keras ketika yang terjadi adalah apa yang diinginkan oleh orang dewasa. Ketika usaha si anak kecil itu untuk bertahan dan menolak keinginan orang dewasa mengalami hambatan maka ia berteriak semakin keras sambil mengatakan ‘tidak mau’, yang juga semakin cepat keluar dari mulutnya. Orang dewasa yang mengalami perlawanan dari si anak, semakin memperkuat juga usahanya untuk membuatnya menurut. Yang terjadi adalah ancaman psikologis terhadap anak bahwa anak akan ditinggalkan dan dibiarkan terkunci dalam rumah. Mungkin orang dewasa berharap dengan menimbulkan ketakutan pada anak, maka anak akan takut dan kemudian menurut.

Namun yang terjadi justru sebaliknya, anak itu mungkin muncul rasa takut untuk ditinggalkan, namun reaksinya bukan menuruti apa yang diinginkan oleh orang dewasa, tetapi justru semakin memperkuat perlawanannya dengan berteriak sekeras mungkin sambil mengatakan ‘tidak mau’ berulang-ulang dengan cepat. Mungkin kata ‘tidak mau’ yang terucap belakangan, mewakili ketidakmauannya atas kejadian sebelumnya, tetapi juga mewakili ancaman akan ditinggalkan. Teriakan yang kemudian menyusul adalah memanggil-manggil nama orang dewasa itu, seolah meminta untuk mendekat, namun juga bercampur dengan kata ‘tidak mau’ yang berarti menolak. Hal itu mengindikasikan kebingungan untuk bersikap atas kejadian yang semakin kompleks. Sementara itu, orang dewasa menjadi tidak konsisten dengan apa yang ingin dilakukannya terhadap anak, dan menjadi tidak fokus, serta terlambat menghentikan kondisi emosi anak yang intensitasnya semakin meningkat.

Orang dewasa mengambil langkah lain ketika apa yang dilakukannya tidak mampu menghentikan reaksi anak. Kali ini dengan usaha mempermalukan anak. Orang dewasa kemudian memanggil nama seseorang, seolah itu nama teman sang anak, dan mengatakan bahwa anak itu sedang menangis dan seharusnya dia merasa malu terhadap kawannya. Namun sesungguhnya tidak benar-benar ada kawan tersebut, meskipun nama yang disebutkan memang nama kawan sang anak. Namun hal itu telah mampu membuat anak semakin memberontak dan mengatakan ‘tidak mau’ bahkan sambil mengatakan ‘tutup pintu!’. Dalam hal itu si anak juga menyadari bahwa apa yang dilakukannya tidak ingin diketahui oleh kawannya, namun di sisi lain belum menyadari bahwa siapapun dapat mengenalinya dari teriakannya sambil menangis. Akhirnya terjadilah semacam pertempuran perbincangan disertai tangisan si anak, dengan suara orang dewasa yang berusaha berbicara sejelas mungkin untuk membuat anak berhenti menangis. Ketika si anak tidak mau berhenti menangis dan terus berteriak, si orang dewasa seperti kehilangan kontrol dan semakin menjauh secara emosional dari anak, dan mengamcam lagi ingin pergi. Si anak mengatakan ‘pergi’ kepada si orang dewasa. Namun ketika si orang dewasa berkata bahwa dia mau pergi, dan mulai membuka pintu, si anak berteriak ‘jangan pergi’ sambil berusaha menutup pintu. Namun ketika si orang dewasa kembali masuk dan mendekati si anak, si anak berteriak ‘pergi’ sambil menangis kencang dan berkata ‘tidak mau’. Ini berarti si anak ingin orang dewasa ada di dekatnya, tidak pergi, tetapi tidak juga menyentuh dan tidak memaksakan keinginannya agar dijalankan oleh si anak kecil.

Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana seharusnya komunikasi yang terjadi di antara mereka? Apa yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa agar keinginannya dapat dilaksanakan oleh si anak? Mengapa si anak tidak mau menjalankan apa yang diinginkan oleh si anak? Bagaimana sikap orang dewasa seharusnya jika si anak tidak mau menjalankan perintahnya? Apakah si anak betul-betul tidak mau melakukan apa yang diinginkan oleh orang dewasa atau belum mau karena cara yang digunakan oleh orang dewasa tidak sesuai dengan yang dikehendaki oleh si anak? Apa cara yang dikehendaki oleh si anak? Apa yang harus dilakukan oleh mereka untuk mensinkronkan komunikasi sehingga tidak terjadi salah komunikasi, yang berakibat pada salah interpretasi, yang kalau tidak diatasi akan dapat mencipta potensi hubungan buruk di antara keduanya?

Pertanyaan-pertanyaan itu dapat menjadi bahan untuk perenungan tentang relasi anak dan orang dewasa yang pada akhirnya akan mencipta pengalaman tertentu pada diri si anak. Di sisi lain, perlakuan orang dewasa terhadap anak memunculkan pengalaman masa lalu tentang pengasuhan yang pernah dialami oleh si orang dewasa. Sampai kapanpun pengalaman itu akan tetap tinggal di dalam memori masing-masing, mencipta sesuatu yang baru, dan mempengaruhi perjalanan kehidupannya di kemudian hari. Secara pribadi pengalaman itu terekam menjadi bagian kehidupannya yang tak terpisahkan, yang kadang tak ingin diungkapkannya, yang kadang justru menjadi sesuatu yang berharga, yang kadang bisa menjadi sesuatu yang positif dan bisa menjadi sesuatu yang negatif, tergantung bagaimana dinamika yang terjadi dalam diri orang tersebut.

Vygotsky_teori sosial historis kognitif

Vygotsky berusaha menciptakan sebuah teori yang memadukan dua garis utama perkembangan manusia, yakni ‘garis alamiah’ yang muncul dari dalam diri manusia, dan ‘garis sosial historis’ yang memengaruhi manusia sejak kecil tanpa bisa dihindari (Crain, 334). Dia berusaha menciptakan sebuah psikologi menurut garis Marxis (Crain, 337). Karl Marx menyadari bahwa manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan biologis, namun dia lebih menekankan pada kemampuan manusia untuk menguasai lingkungannya, memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dan, idealnya, mewujudkan potensi-potensi kreatif mereka yang terdalam.

Untuk memahami manusia, perlu memahami sejarah dan dinamika perubahan sejarah itu sendiri. Sejarah merupakan sebuah proses dialektis, serangkaian konflik dan resolusi. Menurut Friedrich Engels, bukan hanya isi pemikiran yang bergantung kepada perkembangan sejarah, tetapi kapasitas kognitif spesies juga ikut berubah mengikuti perubahan sejarah, khususnya di dalam perkembangan teknologinya (Crain, 339).

Secara umum, teknologi memunculkan orientasi baru terhadap lingkungan. Orientasi baru ini kemudian mendorong manusia merencanakan dan mengamati sesuatu. Pengamatan seperti ini, menurut Engels, bukan berarti mereka sudah melatih kemampuan sebagaimana mestinya. Sekali manusia melihat kekuatan alat dan teknologi, mereka mulai mengubah lingkungan menurut rencana dan rancangan mereka sendiri (Crain, 340).

Seiring dengan pengembangan alat-alat baru oleh spesies kita untuk menghadapi lingkungan, manusia menjadi lebih sadar akan sifat-sifat objek, mengembangkan cara-cara baru untuk bekerja sama dan berkomunikasi, dan mengembangkan kemampuan-kemampuan baru bagi perencanaan dan pengamatan (Crain, 340).

Vygotsky begitu terkesan oleh tulisan Engels mengenai penggunaan alat, dan berusaha mengembangkan inspirasi-inspirasi Engels ini. “Manusia sudah mengembangkan alat-alat untuk menguasai lingkungan”, kata Vygotsky, “mereka juga telah menciptakan ‘alat-alat psikologis’ untuk menguasai tingkah lakunya sendiri”. Vygotsky menyebut beragam peralatan psikologi yang digunakan manusia untuk membantu ini sebagai ‘rambu-rambu’ berpikir dan bertingkah laku, dan dia berpendapat bahwa kita tidak bisa memahami pikiran manusia tanpa menguji terlebih dahulu tanda-tanda yang disediakan budaya (Crain, 341).

Sistem tanda terpenting adalah ‘ujaran’ (kata-kata). Ujaran memiliki banyak fungsi, namun yang paling fundamental adalah dia membebaskan pikiran dan perhatian kita dari situasi mendadak dari stimuli yang menimpa kita pada suatu momen. Kata-kata bisa menyimbolkan objek dan peristiwa yang jauh melampaui situasi kekinian, maka ujaran memampukan kita merefleksikan masa lalu dan merencanakan masa depan (Crain, 341). (Caranya: dengan membicarakan, berbagi ide, menggunakan kata-kata untuk menyimbolkan objek dan peristiwa yang saat ini tidak ada, membuat sebuah rencana).

Ketika manusia menggunakan penandaan seperti itu, mereka terlibat dalam tingkah laku ‘termediasikan’. Artinya, mereka tidak hanya merespons stimuli lingkungan, namun tingkah laku mereka juga dipengaruhi atau ‘dimediasikan’ oleh tanda-tanda itu sendiri. Di titik itu, mereka tidak lagi merespons langsung stimuli lingkungan, namun lebih jauh lagi, bertindak menurut rencana yang sudah dirumuskan secara verbal (Crain, 342).

Penguasaan ujaran sangat penting bagi anak-anak yang sedang tumbuh karena ujaran memampukan anak berpartisipasi dengan pandai di dalam kehidupan sosial kelompoknya. Ujaran juga turut memfasilitasi pikiran individual anak-anak itu sendiri. Di usia 3-4 tahun, anak-anak mulai melakukan sejenis dialog yang mestinya dilakukan dengan orang lain namun mereka mengarahkannya pada diri sendiri. Awalnya mereka menyuarakan dialog itu keras-keras. Namun pada usia 6-7 tahun, mereka mulai melakukan dialog tersebut lebih ke dalam dan secara diam-diam. Vygotsky percaya bahwa kemampuan kita berbicara dengan diri sendiri, berpikir dengan bantuan kata-kata, memberikan kontribusi yang sangat besar bagi kekuatan berpikir kita (Crain, 342).

Dua sistem tanda lain yang juga penting adalah sistem tulisan dan sistem bilangan. Penemuan tulisan adalah upaya terbesar manusia, memampukan mereka menyimpan rekaman-rekaman informasi yang sifatnya permanen. Belajar menulis mensyaratkan penguasaan terhadap indtruksi formal dengan baik. Penguasaan sistem bilangan dan penggunaan teoretis lain terhadap bilangan, sepeti penguasaan membaca dan menulis, memerlukan instruksi formal tertentu (Crain, 343).

Vygotsky berpendapat bahwa sistem-sistem penandaan budaya semacam ini berpengaruh besar bagi perkembangan kognitif. ‘Garis alamiah’ perkembangan mendominasi perkembangan kognitif sampai usia 2-3 tahun, namun setelah itu, perkembangan jiwa sangat dipengaruhi oleh ‘garis budaya’, yaitu sistem-sistem tanda yang disediakan budaya (Crain, 343).

Vygotsky melihat kesempatan unik untuk menguji hipotesis bahwa pikiran abstrak adalah produk dari tingkat perkembangan sosial historis yang relatif maju. Untuk membuktikan itu, maka kita harus menguji lebih dulu kebudayaan tempat anak tumbuh dan sistem tanda yang disediakannya. Vygotsky mengatakan bahwa ‘jika kita mengubah alat-alat berpikir yang digunakan anak, maka pikirannya akan memiliki struktur yang berbeda secara radikal” (Crain, 345).

Anak yang tumbuh, yang berusaha memaknai dunia dengan caranya sendiri, menghadapi suatu budaya yang mengharapkannya menggunakan sistem-sistem penandaan tertentu (Crain, 346).

Ujaran satu-satunya alat psikologis yang yang paling penting. Ujaran membebaskan pikiran dan perhatian kita dari bidang perseptual langsung, sebuah kebebasan yang membedakan kita dari spesies lain (Crain 348). Pikiran manusia bisa menjangkau lebih luas. Dengan kata lain, kita menggunakan kata-kata untuk mengkontemplasikan dan mengarahkan pencarian kita akan objek-objek yang tidak berada di bidang pandang kita (Crain, 349).

Vygotsky mengatakan kalau kemampuan untuk terlibat di dalam dialog-dialog batin itu berjalan dalam tiga tahap. 1) acuan kepada objek yang tidak eksis berlangsung di dalam interkasi anak-anak dengan orang tua, berlangsung sampai anak berusia kurang lebih dua tahun, 2) di usia tiga tahun atau lebih, anak mulai mengarahkan perkataan yang serupa kepada diri sendiri, 3) akhirnya pada usia 8 tahun atau lebih, ujaran anak yang terarah pada dirinya dilakukannya diam-diam dalam hati. Suara itu telah berubah menjadi ucapan dalam hati (inner speech), sebuah dialog diam yang dilakukannya dengan diri sendiri (Crain, 349). Proses ini kemudian dikenal sebagai ‘penginternalisasian interaksi-interaksi sosial’. Apa yang dulunya dimulai sebagai proses antar-pribadi, seperti antara orang tua dan anak, sekarang menjadi proses intra-psikis, terjadi dalam diri anak sendiri (Crain, 349).

Ujaran Egosentris. Di dalam proses penginternalisasian ujaran sosial (social speech), anak-anak melewati sebuah fase di mana mereka menghabiskan sejumlah waktu untuk berkata keras-keras pada diri sendiri. Piaget menyebutnya ujaran egosentris (egocentrical speech). Piaget menyebut ujaran ini ‘egosentrik’ karena dia melihat ujaran tersebut merefleksikan egosentrisme umum anak-anak. Mereka tidak menyesuaikan ujarannya sesuai perspektif pendengar karena secara egosentris dia berasumsi perpektif pendengar sama dengan persepsinya sendiri (Crain, 350). Menurut Piaget, ujaran egosentris tidak berguna selain hanya merefleksikan kelemahan di dalam pikiran anak. Vygotsky, sebaliknya, menekankan fungsi positifnya, yaitu membantu anak-anak menyelesaikan masalah. Pembicaraan pada diri sendiri, membantunya merencanakan dan mengarahkan aktivitas-aktivitasnya (Crain 351). Piaget menganggap ketika anak-anak menaklkukkan egosentrisme mereka, maka ujaran egosentris akan hilang dengan sendirinya. Vygotsky berpendapat bahwa ujaran ini tidak akan hilang begitu saja, melainkan berjalan diam-diam dan berubah menjadi ucapan dalam hati, jenis dialog diam-diam yang sering kita lakukan dengan diri sendiri saat kita berusaha memecahkan persoalan (Crain, 351).

Sumber:

Crain, William. Teori Perkembangan: Konsep dan Aplikasi. ed. ke-3. Terj. oleh Yudi Santoso. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.  2007.

Skoring protokol

Skoring terhadap protokol Rorschach adalah proses mengklasifikasikan jawaban verbal subjek terhadap aspek-aspek yang berbeda dari materi blot. Setiap aspek diberi suatu scoring symbol. Jawaban-jawaban yang sejenis dimasukkan dalam kategori scoring yang sama. Kuantifikasi masuk di dalamnya hanya bila perhitungan frekuensi dibuat dari jawaban-jawaban dalam setiap kategori skoring dan frekuensi-frekuensi ini dibandingkan dengan batas-batas absolute nomor, persentase, dan rasio.

Dalam penggunaan suatu sistem pengklasifikasian terhadap materi kualitatif, maka perbedaan-perbedaan pendapat barangkali harus timbul bila jawaban-jawaban jatuh pada tapal batas antara satu kelas dan lainnya. Adalah pantas untuk membuat system se-reabilitas mungkin sehingga examiner yang berbeda akan memiliki klasifikasi yang secara esensial sama terhadap serangkaian jawaban-jawaban yang sama. Salah satu cara untuk mencapai reabilitas adalah membuat klasifikasi sejelas mungkin, sehingga semua examiner dapat membuat klasifikasi secara eksak atas dasar yang sama.

Kategori Skoring

Setiap respon dalam tes Rorschach dinilai berdasarkan 5 karakteristik.

  1. Location

Dimana titik berat konsep testee pada kartu itu.

  1. Determinant

Bagaimanakah konsep itu kelihatan? Kualitas-kualitas apakah dari blot yang menentukan konsep di atas?

  1. Contents

Apakah yang kelihatan dari isi konsep tersebut?

  1. Popularity Originality

Seringkali konsep tersebut terlihat oleh subjek lain. Suatu respon diklasifikasi sebagai “populer”, bila respon serupa terbanyak frekuensinya. Suatu respon diklasifikasikan sebagai “original” kalau respon tersebut jarang terjadinya.

  1. Form Level

Bagaimana ketelitian konsep tersebut? Bagaimanakah blot yang digunakan? Bagaimanakah tingkat ketelitian dari konsep tersebut?

Apakah yang disebut dengan “respons”?

Subjek menceritakan apa yang dilihatnya dalam blot itu. Verbalisasi dari persepsi atau konsep ini disebut sebagai RESPONS. Sedangkan respon merupakan unit dasar Ro protocol, karena itu sangat penting mengetahui definisi dari “respon” yang tercantum dalam rorschach.

A respons is an independent, discrete idea given to a clearly specified portion, or to the whole, of the ink blot. It is scorable with respect to its use of certain qualities of the blot material.

Jika suatu respon diberikan selama performance proper, maka merupakan suatu main respons, kalau dikeluarkan selama inquiry maka respon tersebut dianggap sebagai additional respons.

Subjek tidak selalu memberikan respon terhadap blot-blot tersebut dengan jelas, sehingga dapat menimbulkan masalah-masalah yaitu apakah isi respon itu secara pasti. Beberapa pertanyaan yang timbul adalah sebagai berikut.

  1. Kapankah suatu reaksi tergolong respon yang benar, dan kapankah tetap dianggap sebagai remark (komentar)? Misalnya, subjek mungkin mengatakan terhadap kartu II, “ini berbeda, ada beberapa warna di sini, oh, mirip dengan dua badut memainkan kue pastel”.

Apakah bagian pertama dari pernyataan itu adalah respon terhadap materi blot atau remark saja? Kalau hanya remark, maka tidak dinilai, untuk itu perlu ditetapkan apakah reaksi subjek adalah remark atau respons.

  1.  Kapankah seharusnya suatu reaksi dinilai sebagai lebih dari satu respons? Misalnya, subjek mungkin mengatakan pada kartu V, “ini adalah seekor kelelawar akan tetapi dapat juga berupa kupu-kupu”. Atas dasar apa seharusnya examiner menetapkan apakah verbalisasi ini merupakan satu atau dua respon?
  2. Bagian manakah dari suatu reaksi seharusnya dinilai sebagai sesuatu yang independent atau semi independent, ide, dan bagian mana seharusnya dianggap sebagai elaborasi atau spesifikasi? Misalnya, respon terhadap kartu IX, mungkin sebagai “suatu pantulan yang indah dari pegunungan dalam danau dan ini adalah danau yang dalam dan biru, dan di atasnya kelihatan seperti matahari akan terbenam, karena berwarna jingga”. Jelas bahwa deskripsi tentang danau dan matahari terbenam adalah elaborasi dari pemandangan yang diamati, tetapi juga merupakan bagian dari ide yang pokok. Apakah yang seharusnya dilakukan terhadap elaborasi-elaborasi itu?
  3. Apakah yang terjadi, bila subjek menyatakan dengan lisan suatu konsep dan kemudian menolaknya?

Kebanyakan pertanyaan di atas dapat dipecahkan dengan mengajukan 2 macam skoring, yaitu main scores dan additional scores. Setiap main respons menerima hanya satu main location score, satu main determinant score, satu main content score, satu main popularity-originality score dan satu form level score. Bagaimanapun, main respons dapat menerima additional scores untuk menerangkan elaborasi dan spesifikasi, baik yang diberikan selama performance proper maupun selama inquiry.

Situasi-situasi lain dimana additional scores diperlukan adalah sebagai berikut.

  1. Jika  suatu respon ditolak selama inquiry. Dalam hal ini respon yang diskor hanya pada bagian additional.
  2. Jika skor-skor di luar main score diperlukan untuk menggambarkan dengan lengkap respon yang diberikan selama performance proper. Additional score ini biasanya diperlukan untuk mengorganisasikan, elaborasi konsep. Additional score ini mungkin untuk location, determinant, content, dan P-O main score.
  3. Jika skor-skor diperlukan untuk menggambarkan elaborasi baru atau asosiasi baru yang timbul selama inquiry. Additional score ini mungkin untuk location, determinant, content, dan P-O main score. Pada additional, elaborasi dan spesifikasi ini mungkin mengubah konsep form-level, biasanya menimbulkan hal ini, kadang-kadang jika elaborasi merusak konsep, elaborasi baru ini akan lebih rendah daripada form-level rating.
  4. Jika skor-skor yang diperlukan untuk menunjukkan bahwa subjek menggunakan kualitas blot dengan agak segan atau tidak langsung. Biasanya keseganan ini dimanifestasikan dengan perhatian pada

H S Sullivan

Harry Stack Sullivan adalah pencipta dari pandangan baru yang dikenal sebagai Interpersonal Theory of Psychiatry. Dalil utamanya yang berkaitan dengan Personality theory adalah personality sebagai the relatively enduring pattern of recurrent interpersonal situations which characterize a human life (1953).

Personality merupakan satuan hipotesis yang tidak dapat diisolir dari situasi interpersonal. Dan suatu tingkah laku interpersonal dapat diobservasi sebagai personality. Konsekuensinya, Sullivan yakin bahwa berbicara soal individu sebagai obyek studi, adalah karena individu tersebut tidak dan tidak akan dapat tampil terpisah dari relasinya dengan orang lain.

Sejak awal kelahirannya, bayi menjadi bagian dari situasi interpersonal, dan melalui sisa-sisa hidupnya dijalani sebagai angggota dari suatu lapangan sosial.

Bahkan seorang pertapapun (hermit) yang melepaskan diri dari masyarakat, akan membawa kenangan dari bentuk relasi personal yang selanjutnya berpengaruh terhadap pikiran dan perilakunya. Kendatipun Sullivan tidak menyangkal akan pentignya faktor bawaan dan kematangan dalam membentuk organisme, ia berpendapat bahwa yang membedakan manusia sebagai manusia adalah bahwa ia merupakan produk dari interaksi sosial.

Lebih lanjut lagi, pengalaman-pengalaman interpersonal dari individu dapat mengubah fungsi fisiologis yang murni, sehingga organisme kehilangan statusnya sebagai kesatuan biologis, dan menjadi organisme sosial dengan cara-cara yang socialized dalam bernafas, mencerna, eliminasi, sirkulasi dan sebagainya.

Bagi Sullivan, ilmu psikiatri terasing dari psikologi sosial, dan teorinya tentang personality membawa peneraan (imprint) dari kecondongan akan konsep-konsep dan variables dari psikologi sosial.

Ia menulis :

“The general science of psychiatry seems to me cover much the same field as that which is studied by social psychology, because scientific psychiatry has to be defined as the study of interpersonal relations, and this ini the end calls for the use of the kind of conceptual framework that we now call field theory. Fromm such a standpoint, personality is taken to be hypothetical. That which can be studied is the pattern of processes which characterize the interaction of personalities in particular recurrent situations or fields which ‘include’ the observer (1950).

 

 

RIWAYAT HIDUP

Harry Stack Sullivan lahir di suatu daerah pertanian dekat Norwich, New York, tanggal 21 Februari 1892, dan meninggal tanggal 14 Januari 1949 di Paris, Perancis dalam perjalanan pulang dari pertemuan eksekutif board dari world Federation for Mental Health di Amsterdam.

Ia menerima ijasah medis dari Chicago College of medicine and surgery pada tahun 1917, dan bekerja sama dengan tentara selama Perang dunia I, setelah perang ia menjadi officer medis dari Federal Board for Vocational Education dan kemudian menjadi officer pada Publik Health Service. Tahun 1922 Sullivan berangkat ke rumah Sakit St. Elizabeth di Washington DC dimana ia berada di bawah asuhan William Alanson White, pimpinan American Neuropsychiatry.

Dari tahun 1923 sampai awal tahun tigapuluhan ia berasosiasi dengan Medical School of the University of Maeeyland dan dengan Sheppard and Enoch Pratt Hospital di Townson, Marryland.

Disitu merupakan periode kehidupannya dimana Sullivan menemukan Schizhophrenia yang kemudian memapankan reputasinya selaku clinician. ia meninggalkan Marryland dan membuka kantor di Park Avenue di New York City.

Pada saat itu ia memulai training analisa dengan Clara Thomson, seorang pelajar dari Sandor Ferenczi. Ini bukanlah pembukaannya yang pertama kepada Psikoanalisa. Ia menghabiskan kurang lebih 75 jam dari analisa, sementara ia masih menjadi mahasiswa kedokteran. Pada tahun 1933 ia menjadi presiden dari William Alanson White Foundation sampai tahun 1943.

Pada tahun 1936, ia membantu dan menjadi direktur dari The Washing ton School of Psychiatry. Journal Psychiatry mulai dipublikasikan pada tahun 1938 untuk mempromosikan teori Sullivan tentang relasi-relasi interpersonal.

Ia menjadi ko-editor dan kemudian menjadi editor sampai ia meninggal. Sullivan bekerja sebgai konsultan untuk The Selective Service System , pada tahun 1940-1941; ia menjadi participant selama tahun 1948 di UNESCO Tensions Project, dimapankan oleh United Nations untuk mempelajari ketegangan yang berpengaruh dalam pengertian Internasional; dan ia ditunjuk sebagai anggota dari komisi Preparatory International untuk konggres Internasional dari Mental Health pada tahun yang sama.

Sullivan adalah ilmuwan yang terkemuka sebaik pembicara yang terkenal dalam bidang psikiatri, seorang therapeut yang luar biasa, seorang teoritikus yang berani dan ilmuwan medis yang produktif. Dengan personality yang bergairah dan pemikiran yang orisinil, ia menarik banyak orang yang menjadi pengikut, mahasiswa, kolega dan teman-temannya.

Selain dari William Alanson White, pengaruh-pengaruh utama terhadap perkembangan intelektual Sullivan adalah freud, Adolph Meyer, dan The Chicago School of Sociology yangmencakup George Herbert Mead, W.I. Thomas, Edward Sapir, Robert E.Prak, E.W. Burgess, Charles E.Merriam, William Healy, dan Harold Lasswell.

Sullivan sendiri merasa dekat dengan Edward sapir yang salah satu pioneer dalam memperjuangkan hubungan kerja sama antara Antropologi, Sosiologi dan Psikoanalisa.

Sullivan mulai memformulasikan teorinya tentang hubungan interpersonal pada tahun 1929 danmengkonsolidasikan pemikiran-pemikirannya pada pertengahan tahun 1930-an.

Selama masa hidupnya Sullivan hanya mempublisir satu buku tentang teorinya (1947). Kendatipun demikian, ia menyimpan catatan-catatan detail dan banyak dari kuliah-kuliahnya pada mahasiswa dari The Washington School of Psychiatry dibuat rekamannya. Catatan-catatan serta rekaman-rekaman tersebut diwariskan pada William Alanson White psychiatric Foundation, lima buku berdasarkan bahan-bahan dari Sullivan telah dipublikasikan, tiga yang pertama dengan kata pengantar serta komentar dari Hellen Swick Perry dan Marry Gavell, kedua yang terakhir oleh H.S. Perry sendiri.

Buku ‘The Psychiatric Interview’ (1954), dan buku ‘clinical studies in Psychiatry’ (1956) dilatar belakangi kuliahnya di tahun 1943. Makalah Sullivan perihal Schizophrenia, saat ia berasosiasi dengan Sheppard & Enoch Pratt Hospital, telah disajikan secara bersama dan dipublisir dengan judul “schizophrenia as a human process (1962)’. Volume terakhir ditampilkan dalam ‘The fusion of psychiatry and social science (1964). Volume yang pertama dan terakhir dalam lima seri merupakan buku yang tepat dalam memahami teori psikologi sosial tentang personality dari Sullivan.

Matrick Mullahy, seorang filosof dan penganut Sullivan, telah mengedit beberapa buku berkenaan dengan teori tentang relasi interpersonal, salah satunya adalah ‘a study of interpersonal relations (1949), berisi kelompok makalah dari perserikatan orang-orang dengan Washington School dan The William Alanson White Institute di New York.

Seluruh artikel dicetak dalam ‘psychiatry’. Buku yang lain berjudul ‘The contributions of Harry Stack Sullivan (1952) mencakup kelompok dari makalah-makalah yang memprasarankan bermacam-macam disiplin, termasuk psychiatry, psikologi dan sosiologi. Buku ini mencakup sejumlah teori interpersonal dari Mullahy dan bibliography yang lengkap dari tulisan-tulisan Sullivan di tahun 1951. Intisari pandangan-pandangan juga dimunculkan dalam ketiga buku yang lain oleh Mullahy (1948, 1970, 1973). Teori relasi interpersonal dari Sullivan telah disajikan oleh Dorothy Blisten (1953) dan tentang hidup serta karyanya oleh Chapman (1976).

 

THE STRUCTURE OF PERSONALITY.

Sullivan berulang kali menekankan bahwa personality itu merupakan suatu kesatuan hipotetis yang murni, ‘suatu illusi’, yang mana tidak dapat diobservasi atau dipelajari secara terpisah dari situasi interpersonal. Bagian yang dipelajari ialah situasi interpersonal dan bukannya si individu. Tatanan kepribadian (The Organization of personality) lebih mencakup ‘interpersonal’ ketimbang hal-hal intra psikis. Kepribadian hanya dimanifestasikan pada saat individu bertindak dalam relasi terhadap satu atau lebih orang lain. Akan halnya individu itu sendiri tidak perlu dipermasalahkan, pada kenyataannya ia dapat berupa illusi atau figure yang bukan sesungguhnya. Seseorang bisa saja menjalin relasi dengan tokoh rakyat seperti: Paul Bunyan ataupun karakter fiktif dari Anna Karenina.

“Psychiatry is the study of phenomena that occur in interpersonal situations, in configurations made up of two or more people all but one of whom may be more or less completely illusory (1964).

Pengamatan, ingatan, berfikir, membayangkan dan seluruh proses psikologis yang lain adalah interpersonal di dalam karakternya. Bahkan ‘norturnal dreams’ pun tetap interpersonal, sejauh mereka merefleksikan relasi dengan orang lain di dalam mimpinya tersebut. Walaupun Sullivan menganggap kepribadian di dalam status hipotetis, tidak urung pula dia menerangkan bahwa ada suatu sentral dinamika dari berbagai proses yang muncul dari lapangan interpersonal itu. Lebih jauh lagi, ia juga memberi status yang mandiri kepada beberapa proses dengan mengidentifisir serta memberikan namanya dan dengan beberapa pengkonsepan. Hal-hal prinsipiil tersebut adalah ‘dynamisms’, ‘personification’, dan ‘cognitive proses’.

Suatu dynamisms merupakan unit terkecil yang dapat digunakan dalam studi tentang individu. Definisinya ialah ‘the relatively enduring pattern of energy transformations, which recurrently characterize the organism in its duration as a living organism (1953).

Suatu transformasi energi adalah bentuk dari tingkah laku. Hal ini dapat bersifat ‘overt’ dan memasyarakat, seperti halnya berbicara ataupun bersifat ‘covert’ serta ‘private’ seperti berfikir, dan berfantasi. Karena suatu dynamism merupakan pola dari tingkah laku yang bertahan dan berulang kali, maka hal ini mirip dengan suatu kebiasaan. Definisi Sullivan tentang pola tersebut berbentuk suatu peribahasa yang aneh; ia mengatakannya sebagai ‘an envelope of insignificant particular differences (1953).

Hal ini berarti, bahwa suatu berita baru akan ditambahkan pada suatu pola tanpa mengubah pola tersebut, selama tidak ada perbedaan yang significant dengan isi lain dari ‘the envelope’. Apabila perbedaan tersebut adalah significant, maka hal tersebut akan mengubah pola lama menjadi pola yang baru.

 

Lovely Sunday

Hari minggu memang enaknya tinggal di rumah, tidak berkarya. Konon, Tuhan pun istirahat di hari ke-7. Kalau kerja dimulai hari senin, maka hari ke-7 jatuh di hari minggu. Sedangkan hari minggu bagiku, beberapa tahun belakangan hampir tidak pernah istirahat, tetap berkarya.

Sedangkan aku sudah 1 jam lebih masih berkutat di dalam kemacetan jalan di hari minggu ke-empat di jalan Sudirman Jakarta. Ohh..minggu ke-empat di bulan puasa mendekati hari lebaran, sungguh luar biasa…rasanya semua mobil pribadi turun ke  jalanan hari ini. Dan jalur tengah jendral sudirman tetap tak bergeming, tak menerima kehadiran mobil di dalamnya. Jadilah jalur lambat penuh sesak menerima tumpahan mobil dari mama saja. Dan aku, salah satu yang terjebak di tengahnya karena Mr Taxi yang tidak terlalu hafal jalan di Jakarta.

Bagaimana Mr Taxi sampai tidak hafal jalan di Jakarta? dan saya pun dengan hormat dipersilakan turun untuk kemudian melanjutkan dengan Mr TransJkt. Janji menguji mahasiswa yang sedianya dimulai jam 11.30, akhirnya baru mulai jam 1 lebih karenanya. Nguji berjalan lancar karena saya menikmati setiap temuan dalam penelitian yang dilakukan mahasiswa, apapun hasilnya.

Ha ha, selesai nguji dan pulang, baru nyadar kalau sstttt…ongkos nyampai ke tempat nguji hari ini dengan honor nguji sangat tak seimbang. Konon banyak orang bilang bahwa mencintai perlu pengorbanan, maka mungkin inilah wujud pengorbanan saya pada pekerjaan yang saya cintai. Tapi sayangnya saya kurang setuju atas pendapat banyak orang. Saya mempunyai konsep sendiri atas pekerjaan. Pekerjaan adalah sebagian dari ibadah, dan seperti halnya ibadah lainnya, harus dilakukan dengan sukacita dan karenanya hasilnya akan berlipat ganda, entah darimana. Namun, kalau sukacita tak kan lagi ada, maka ketidaksukacitaanlah yang akan dilipatgandakan, dan itu berbahaya. Tapi sampai saat ini aku menjalani pekerjaan masih dengan sukacita, jadi mudah-mudahan berlipatganda pula hasilnya.

Panduan Tabulasi

Tabulasi dilakukan setelah semua respon subjek telah dicatat dan diberi skor pada lembar protokol. Tabulasi dilakukan di lembar “tabulation & scoring sheet”. Yang dilakukan saat tabulasi adalah pencatatan dan penjumlahan semua skor pokok (“main score”) dan skor tambahan (“additional score”), pencatatan form level arting (FLR) yang dinilai dari setiap respon, membuat kalkulasi persentase dan rasio (perbandingan), representasi grafis terhadap “determinant score”, dan posisi kartu ketika respon diberikan.(Catatan: lembar tabulasi dapat anda peroleh di materi perkuliahan di hibrid learning).

Pada lembar “tabulation & scoring sheet”, ada sejumlah kolom untukmencatat semua informasi yang dibutuhkan bagi setiap respons. Kolom pertama adalah untuk mencatat nomor kartu (dengan angka romawi: I, II…dst.), nomor respon (1, 2, 3…dst), respons tambahan (additional respon: add), dan posisi kartu ketika subjek memberikan jawaban. Pada kolom kedua untuk mencatat waktu reaksi (“reaction time”) dalam satuan detik.

Kolom berikutnya (berisi 4 kolom) digunakan untuk mencatat hasil skor lokasi (“main location scores” dan “additional location scores”). Anda tinggal melihat hasil skor lokasi dari lembar skoring protokol dan memindahkannya ke lembar ini sesuai dengan penempatan masing-masing skornya. Di situ ada kolom untuk skor whole (W, W-cut, DW) yang digunakan untuk pencatatan semua skor whole, ada kolom untuk pencatatab skor usual detail (D dan d), ada kolom untuk pencatatan skor “unusual areas” (dd, de, di, dr, dan S), dan satu kolom untuk pencatatan skor additional untuk lokasi (apapun lokasinya).

Kolom berikutnya (berisi 6 kolom) digunakan untuk pencatatan “determinant score”. Kelima kolom pertama untuk pencatatan 5 kategori “main determinant score”, dan 1 kolom untuk pencatatan “additional determinant score”.  (Catatan: anda perlu melihat ke dalam buku rorschach, untuk melihat kategori skor, untuk memudahkan pencatatan ke kolom yang sesuai).

Berikutnya ada 2 kolom untuk mencatat “content score”, yaitu “main content score (main)” dan “additional content score (add)”. Anda tinggal memindahkan skor content yang diperoleh dari lembar protokol. Ada ruang-ruang di sebelah bawah dari kolom-kolom itu untuk mencatat jumlah dari masing-masing kategori content yang sering digunakan. Anda isikan jumlah content yang dimaksudkan, sesuai content yang diminta di situ.

Kolom berikutnya adalah kolom “form level rating”, digunakan untuk pencatatan nilai FLR, sesuai respon yang memperoleh skor.

Bila semua skor telah dicatat daam kolom, semua “main scores” dan “additional scores” dijumlahkan menurut kategori skoringnya masing-masing. Pada bagian bawah kolom, disediakan ruang-ruang untuk menunjukkan jumlah dari semua “main scores” dan “additional scores”, dan untuk menunjukkan jumlah FLR dan rata-ratanya.