Usia Dewasa: Tinjauan Psikologi Perkembangan

Berbicara mengenai usia manusia, di psikologi dikenal 2 (dua) macam jenis usia yakni chronological age (usia kronologis) dan mental age (usia mental). Chronological age atau disebut juga usia kalender adalah usia seseorang yang dihitung sejak lahir sampai waktu tertentu (Chaplin, 2002). Dalam kehidupan sehari-hari ketika seseorang ditanya berapa usianya, pada umumnya dijawab dengan usia kronologis. Sedangkan mental age adalah usia yang merujuk pada tingkat kemampuan mental seseorang setelah dibandingkan dengan kelompok seusianya (Chaplin, 2002). Untuk menentukan usia mental seseorang dibutuhkan metode tertentu, biasanya secara formal dengan menggunakan tes kemampuan psikologis. Dengan demikian penentuan usia mental seseorang secara formal membutuhkan rekomendasi ahli yang berkecimpung di bidang pengukuran psikologis. Usia mental seseorang tidak selalu sejajar dengan usia kronologisnya. Bisa saja seseorang memiliki usia mental yang lebih tinggi atau mungkin lebih rendah dari usia kronologisnya. Mereka yang memiliki usia mental lebih tinggi dari usia kronologisnya, maka dalam tampilan perilakunya akan terlihat lebih dewasa dan lebih matang dibanding kelompok seusianya. Sebaliknya mereka yang memiliki usia mental yang lebih rendah dari usia kronologisnya, maka dalam tampilan perilakunya terlihat kurang dewasa dan kurang matang dibanding orang-orang seusianya.

Tahapan Usia dan Tugas Perkembangan

Dalam rentang kehidupan manusia, Hurlock (1980) membagi usia perkembangan secara kronologis ke dalam tahapan-tahapan sebagai berikut:

  1. Prenatal: konsepsi sampai kelahiran.
  2. Babyhood: kelahiran sampai akhir minggu kedua.
  3. Infancy: akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.
  4. Early childhood: 2 tahun sampai sekitar 6 tahun.
  5. Late childhood: 6 tahun sampai sekitar 10 tahun.
  6. Puberty/ preadolescence: 10  sampai 13 tahun (untuk perempuan) atau 12 tahun sampai 14 tahun (untuk laki-laki)
  7. Adolescence: 13 tahun atau 14 tahun sampai 18 tahun.
  8. Early Adulthood: 18 tahun sampai 40 tahun.
  9. Middle Adulthood: 40 tahun sampai 60 tahun.
  10. Aging: > 60 tahun.

Pada masing-masing tahapan usia di atas terdapat tugas-tugas perkembangan yang harus dijalani oleh seseorang. Tugas perkembangan itu muncul karena adanya kematangan fisik, mental dan tuntutan lingkungan sosial. Kegagalan dalam menjalani tugas perkembangan dapat mengakibatkan kekurangsiapan dan kekurangmatangan dalam memasuki tahapan berikutnya. Dari tahapan usia yang dikemukakan oleh Hurlock di atas, terlihat bahwa seseorang dikatakan telah dewasa adalah ketika usianya sudah mencapai 18 tahun. Pada usia itu, mereka mulai dihadapkan pada tugas perkembangan yang harus dijalaninya, antara lain: (1) mulai bekerja, (2) memilih pasangan, (3) mulai membina keluarga,  (4) mengasuh anak, (5) mengelola rumah tangga, (6) mengambil tanggung jawab sebagai warganegara, (7) mencari kelompok sosial yang menyenangkan. Tugas perkembangan di atas mengindikasikan adanya tanggung jawab yang besar dan mengacu pada aturan dan hukum yang berlaku atau disepakati bersama. Tugas perkembangan itu memiliki dampak secara langsung pada orang lain, sehingga jika tidak dijalankan dengan baik dapat merugikan orang lain, selain diri sendiri. Tentu saja tugas perkembangan pada usia dewasa itu berbeda dengan tugas perkembangan pada usia sebelumnya yaitu usia remaja (adolescence), yang antara lain adalah: (1) mencari hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita, (2) menerima perubahan/keadaan fisiknya, (3) belajar mencapai perilaku sosial yang bertanggungjawab, (4) mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya, (5) mempersiapkan karier ekonomi, (6) mempersiapkan perkawinan dan keluarga, (7) memperoleh peringkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi. Pada tugas perkembangan remaja di atas isinya lebih banyak pada persiapan menuju masa dewasa atau transisi menuju dewasa. Tuntunan dari orang tua atau orang yang lebih dewasa masih sangat dibutuhkan. Remaja yang tidak menjalani tugas itu dengan baik, tentu saja dapat mengalami kesulitan ketika mengambil tanggung jawab sebagai orang dewasa. Dengan cara yang berbeda, Schaie (Papalia, 2008) melihat perkembangan usia mental (dalam hal ini adalah pemfungsian intelektual) dalam konteks sosial. Ada tujuh tahapan, yaitu:

  1. Tahap pencarian (acquisitive stage): masa kanak-kanak sampai remaja. Suatu tahap dimana anak-anak dan remaja menguasai informasi untuk kepentingan mereka sendiri atau sebagai persiapan berpartisipasi di masyarakat.
  2. Tahap pencapaian (achieving stage): remaja akhir sampai awal tiga puluhan, sering disebut juga dengan istilah “pemuda”.  Suatu tahap dimana para pemuda tidak lagi mendapatkan informasi bagi kepentingan mereka sendiri, mereka menggunakan apa yang mereka ketahui untuk orang lain juga, untuk mengejar target, seperti karier dan keluarga.
  3. Tahap pertanggungjawaban (responsible stage): akhir tiga puluhan sampai awal enam puluhan. Suatu tahap dimana orang-orang usia paruh baya menaruh perhatian pada target jangka panjang dan masalah praktis yang berkaitan dengan tanggung jawab mereka terhadap orang lain.
  4. Tahap eksekutif (executive stage): tiga puluhan atau empat puluhan sampai usia pertengahan. Suatu  tahap dimana orang usia paruh baya bertanggung jawab terhadap sistem sosial yang berhadapan dengan relasi kompleks di beberapa level. Tahap ini dapat berjalan bersama tahap responsible di atas.
  5. Tahap reorganisaional (reorganizational): akhir usia pertengahan, masa pensiun. Tahap dimana orang dewasa yang memasuki masa pensiun mereorganisasi kehidupan mereka seputar aktivitas bukan kerja.
  6. Tahap reintegratif (reintegrative stage): akhir masa dewasa. Suatu tahap dimana orang dewasa lebih tua memilih memfokuskan energinya yang terbatas pada tugas yang bermakna bagi mereka.
  7. Tahap penciptaan warisan (legacy-creating stage). Suatu tahap dimana orang yang sudah tua bersiap menghadapi kematian dengan merekam kisah hidup mereka, membagikan harta, dan sebagainya.

Apa yang dikemukakan oleh Schaie dan Hurlock tidak jauh berbeda. Mereka menunjukkan bahwa seseorang pada usia dewasa mulai dituntut untuk bertanggung jawab bukan hanya pada diri sendiri tetapi juga pada orang lain, dan mulai bertanggung jawab pada pemeliharaan kehidupan bermasyarakat yang lebih luas. Dan usia dewasa yang dimaksud adalah ketika seseorang memasuki usia 18 tahun.

Usia Dewasa dalam Konteks Indonesia

Secara umum di Indonesia belum ditemukan penelitian yang dapat dijadikan rujukan secara umum dalam hal kategorisasi usia perkembangan seperti yang dilakukan oleh Schaie dan Hurlock. Namun demikian, dalam kategorisasi usia pendidikan dapat dijadikan acuan untuk melihat tahapan perkembangan seseorang. Jika disandingkan dengan teorinya Schaie dan Hurlock, maka mereka yang masih duduk di bangku sekolah menengah (disebut ‘siswa’) dapat dikatakan berada pada masa remaja atau transisi menuju masa dewasa, sedangkan selepas dari SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi (disebut ‘mahasiswa’) dapat disetarakan dengan memasuki usia dewasa. Jika merujuk pada aturan Depdiknas bahwa seseorang memasuki sekolah kelas satu SD adalah berusia 7 tahun, maka secara normal orang itu akan lulus Sekolah Menengah Atas pada usia 18 tahun. Jika dikaitkan dengan kategori usia dewasa dari Hurlock dan tahap pemfungsian intelektual dari Schaie, maka usia 18 tahun di Indonesia yang rata-rata sudah lulus SMA, dapat dijadikan patokan sebagai usia kedewasaan seseorang. Namun dengan kondisi masyarakat Indonesia yang sangat heterogen, tentu saja penetapan usia dewasa seseorang tidak dapat digeneralisasikan begitu saja pada seluruh usia yang sama. Analisa atau penelitian yang lebih mendalam masih sangat dibutuhkan untuk penetapan kategorisasi tahapan usia dewasa dalam konteks Indonesia.

Daftar Pustaka

Chaplin, J.P. (2002). Kamus Lengkap Psikologi. Cet.ke-8. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Hurlock, Elizabeth (1980). A Life Span Approach. 5th ed. McGraw-Hill, Inc.

Papalia, D.E; S.W.Old; RD Feldman (2008). Human Development. 9th ed. McGraw-Hill Co.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>