Tes Bakat & Prestasi Belajar

Dalam bidang pendidikan, prestasi belajar (akademik) merupakan hasil dari berbagai faktor, antara lain kemampuan belajar (general learning) dan bakat yang dimiliki. Kegagalan dalam prestasi akademik bisa disebabkan oleh kemampuan belajarnya yang tidak mendukung atau bakatnya yang kurang menunjang. Kegagalan juga bisa disebabkan oleh kurangnya fasilitas belajar yang dibutuhkan siswa untuk mengaktualisasikan kemampuannya dan bakat khusus yang sebenarnya dimilikinya.

Konsep ’bakat’ muncul dari ketidakpuasan terhadap tes inteligensi yang menghasilkan skor tunggal yaitu IQ (Intelligence Quotient). Semula IQ inilah yang digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam perencanaan di berbagai bidang. Namun IQ tidak dapat memberikan banyak informasi jika ada dua orang yang mempunyai skor IQ yang sama tetapi menghasilkan prestasi yang berbeda. Namun tes bakat mampu menjelaskannya. Hal itu bisa saja terjadi karena orang yang satu mempunyai skor yang tinggi pada tugas-tugas yang menuntut kemampuan verbal, sedangkan orang lainnya mempunyai skor rendah pada tugas-tugas verbal tetapi mempunyai skor yang tinggi pada tugas-tugas yang menuntut kemampuan berhitung, atau yang lainnya. Definisi bakat tidak jauh berbeda dengan inteligensi yaitu rangkaian karakteristik yang dipandang sebagai gejala kemampuan seseorang untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan dimatangkan melalui latihan-latihan. Dengan demikian bakat yang dibawa sejak lahir hanya akan berkembang jika lingkungan memberi kesempatan dengan latihan-latihan.

Tes bakat dilakukan untuk mengetahui sejauhmana kesanggupan siswa dalam proses belajar pada jenjang berikutnya dan kecenderungan bakat dalam bidang-bidang tertentu. Tes ini berupa battery (serangkaian) tes yang telah distandardisasikan sehingga dapat mengukur bakat seseorang, yaitu mengetahui aspek-aspek kemampuan, kekuatan dan kelemahannya antara aspek yang satu dibandingkan aspek lainnya. Beberapa aspek yang diungkap antara lain kemampuan verbal, kemampuan penalaran abstrak, kemampuan numerik, kemampuan berfikir (menalar) secara mekanik, kemampuan bekerja secara cepat & teliti, kemampuan spasial (membayangkan ruang) dan kemampuan menggunakan bahasa.  Semakin tinggi hasil tes bakat seseorang, makin tinggi pula kemungkinan yang ia miliki untuk dapat mengikuti materi belajar pada jenjang yang lebih tinggi, dan mencapai prestasi belajar yang baik. Namun ada kalanya  seseorang memiliki skor tes bakat tinggi tetapi prestasinya rendah (underachievement), artinya seseorang tidak dapat mencapai prestasi sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Hal tersebut banyak dijumpai pada siswa yang mempunyai motivasi rendah atau lemah dalam mencapai sesuatu yang diinginkannya. Sebaliknya, dapat terjadi prestasi lebih (overachievement) meskipun hasil tes bakatnya rendah, artinya seseorang dengan kemampuan terbatas dapat mencapai prestasi yang cukup baik. Hal ini karena usahanya yang sungguh-sungguh dalam mencapai sesuatu yang diinginkannya, disamping pengaruh faktor-faktor lainnya.

Pada dasarnya prestasi belajar seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor potensi dasar saja, tetapi juga oleh faktor-faktor lain. Faktor-faktor tersebut adalah 1) faktor pribadi, yaitu faktor yang muncul dari dalam diri orang itu sendiri, antara lain motivasi, kebiasaan belajar, cara-cara belajar, masalah kesehatan, faktor-faktor kejiwaan lainnya yang dapat menyebabkan tidak bisa berkembangnya secara wajar potensi seseorang, 2) faktor lingkungan, yaitu faktor yang muncul dari luar diri seseorang, antara lain yang terjadi di a) lingkungan keluarga yaitu keharmonisan hubungan antara orang tua & anak, harapan yang berlebihan dari orangtua pada anak yang akan mempengaruhi konsentrasi belajar & prestasinya; b) lingkungan sosial atau masyarakat, yaitu pola hidup yang semakin modern dan perubahan-perubahan kehidupan yang semakin cepat, yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap perkembangan kejiwaan seseorang, dan hal tersebut dapat merupakan batu sandungan dalam proses belajar mengajar; c) lingkungan sekolah, meliputi sarana pendidikan dan fasilitas-fasilitasnya, cara mengajar, hubungan yang terjadi antar siswa, antara siswa dan pengajar, hubungan antar pengajar & lainnya yang akan mempengaruhi motivasi belajar dan secara tidak langsung mempengaruhi pula proses belajar di sekolah. Dengan memahami hal-hal di atas yang mungkin berpengaruh dalam proses pencapaian prestasi belajar, maka akan lebih mudah memahami apabila ada siswa yang mengalami kegagalan atau kesulitan dalam berprestasi. Dengan demikian akan lebih mudah untuk mencari solusinya. (Wien SR).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>